Kalah. Sebuah kondisi, dimana mungkin bagi kita ini kekalahan pertama, sedangkan mereka telah berkali-kali mengalaminya, sebuah perbandingan yang membuat diri lebih percaya bahwa ini bukan sebuah derita, “Mungkin sedikit, ya..tapi tak apalah,” begitu kita biasa membesarkan hati. Atau ini justru kesekian kali bagi saya dan anda, tapi mereka disana baru sekali ini. Sebuah tetimbang yang sangat jomplang, bagai langit dan bumi. Jadi seperti hukuman tanpa pembelaan sama sekali, sehingga kita merasa berada dalam isolasi dari semua kesempatan untuk meraih kemenangan. Namun kalah tetaplah kalah. Pasti menyakitkan.
Apakah sakitnya tak tertahankan lagi karena kekalahan sebegitu besar sehingga tidak termaafkan, karena apa yang kita buat dicemooh sebagai sebuah kutukan, sebuah garis tangan hingga tak bisa lagi merubahnya, walau untuk sekali saja. Atau sesungguhnya belum seberapa bila dibandingkan yang lain, masih ada waktu yang cukup buat kita mengupayakan sebuah kemenangan untuk membalas kekalahan yang lalu. Tetap saja kalah membuat malu.
Bisa saja dengan tertunduk malu keluar dari lapangan permainan, sementara mereka yang menang dielu-elukan tanpa henti. Sepertinya sebuah kemenangan lawan, bukanlah perayaan bila si pecundang tak berada di tempat dimana ia dikalahkan. Atau hanya kita yang dibiarkan tahu diri kalah, sementara orang lain justru memberi dukungan moral. Bahkan membesarkan hati agar kita tidak terkena malu, menjaganya hingga bila ada kesempatan berlaga lagi. Tetap saja kalah membuat hilang harapan.
Bila harapan habis hingga yang tersisa cuma baju di badan, nyali pun telah kendur dan semangat tak bersemi lagi. Ataukah masih banyak pundi harta yang akan membuat kita bertahan hidup hingga akhir masa. Kharisma dan rasa percaya diri yang masih meluap-luap. tetap saja kekalahan bisa menimbulkan pilihan untuk bunuh diri.
Empat hal: menyakitkan, memalukan, kehilangan harapan atau berakhir dengan bunuh diri adalah efek dari kekalahan. Sesungguhnya setiap orang akan sampai pada salah satunya, cuma seberapa tahannya. Bahkan ada yang tidak melewati tahapan-tahapan, langsung pada keputusan mengakhiri hidup. Semua itu sangat tergantung akan berapa besarnya reaksi positif terhadap kekalahan yang disiapkan. Bila hidup ini sebuah permainan, setiap individu harus berkompetisi dalam segala sisi. Dengan setiap orang, bahkan dengan bagian dari ego diri sendiri. Karena itu bersiaplah! Kadang menang, tidak jarang kalah, bila beruntung kita seri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar